8+ Puisi Tentang Kabut Asap & Kebakaran Hutan : Kembalikan Udara Kami!

Posted on

Puisi tentang Kabut Asap – Selamat datang dan selamat berjumpa kembali di Blog Senipedia yang sederhana ini. Kali ini, saya akan kembali mengulas tentang sastra, bertemakan Puisi Kabut Asap yang tengah melanda negeri tercinta ini.

Beberapa waktu terakhir ini, Indonesia tengah dihebohkan oleh suatu bencana, yang penyebabnya masih simpang siur. Ada yang berpendapat bencana ini disebabkan oleh manusia, ada pula karena faktor alam, seperti kemarau misalnya.

Bencana Kabut asap ini paling hebat dirasakan oleh masyarakat Provinsi Riau dan Kalimantan, dimana keberadaannya sangat mengganggu mayoritas aktivitas masyarakat, bahkan berstatus Berbahaya, hingga beberapa sekolah dan dunia kerja diliburkan.

Puisi Tentang Kabut Asap dan Kebakaran Hutan

Dibalik fenomena ini, tentunya sangat menyisakan rasa sedih dan pilu yang semakin lama semakin mendalam. Bagaimana tidak, begitu banyak efek negatif yang dirasakan oleh mereka yang sebagai korban.

Untuk itulah, disini saya telah merangkum beberapa Puisi tentang Kabut Asap untuk kamu semua, terkhusus bagi yang merasa sebagai korban. Semoga bisa dijadikan pengekapresian diri dan sikap terhadap apa yang tengah kamu hadapi.

Puisi Kabut Asap : Tuhan, Aku dan Kabut Asap

Aku, tak berdaya,
Menatap alam sekitar,
Kupu-kupu tak lagi ria,
Capung terbang terombang derita.

Aku, mengikis sisa-sisa asa,
Ditepi relung penuh derita,
Akan kabut asap yang bawa luka,
Hanguskan hutan dan rimba.

Tuhan, sampai kapankah begini,
Apakah selamanya seperti ini?
Tumpahkanlah kesegaran bagi kami,
Untuk bernafas bebas setiap hari.

Tuhanku,
Kembalikanlah keceriaan anak-anak,
Ubahlah murung menjadi sorak,
Jadikan tawa pengganti teriak.

Lelah, padam an sesak,
Kabut asap menggiring dampak,
Atas segala yang terjadi,
Hanya Pada-Mu memohon perlindungan diri.


Tebalnya Kabut dan Harapan

Seakan semua sirna,
Kala malam perlahan tiba,
Aku menatap dari jendela kaca,
Tentang kisruh dalam realita.

Bak badai padang pasir,
Kabut dan asap perlahan mengusir,
Harapan besar tinggal segelintir,
Mengikis asa dihadapan takdir.

Sampai kapan seperti ini?
Apakah harapan akan mati?
Atau kabut asap yang segera pergi?
Entahlah, Biar Tuhan yang Menghendaki.

Yang jelas,
Sisa harapan kian mencadas,
Raut pilu semakin membekas,
Begitu tega kabut merampas,
Merebut bahagia tanpa batas.

Ya Tuhan, hilangkanlah musibah ini,
Padamkanlah semua Api,
Kami rindu sejuknya udara pagi,
Hanya pada-Mu kami berserah diri.


Tolong, Kembalikan Udara Kami

Setiap pagi, sore dan malam,
Kami bercengkrama dengan kelam,
Hari-hari kian memburam,
Bagai terjebak dalam padam.

Jarak pandang yang menyiksa,
Terbitkan keluh hadirkan derita,
Entah dimana ini ujungnya,
Menanti obat pelibur lara.

Ya Allah,
Kembalikanlah Udara kami,
Kami rindu suasana dulu lagi,
Dimana pagi bertatapan dengan mentari.

Ya Allah,
Datangkan kembali cerahnya hari,
Kami rindu keringat bahasi diri,
Yang datang dari lelahnya badan ini,
Kala bekerja di tengah hari.

Andai semua ini segera berakhir,
Tak tahu apa yang pastas terucap,
Untuk menggambarkan rasa terima kasihku,
Pada-Mu-lah kami berharap.

Tolonglah, Ya Allah,
Dengan tangan ternganga penuh pasrah,
Lewat sisa-sisa secuil gairah,
Kami memohon secercah cerah,
Untuk kembalinya hidup yang Indah.


Puisi Tentang Hutanku Yang Malang

Api kian menjalar,
Angin berhembus berputar,
Setiap detik makin melebar,
Luaskan hutan yang terbakar.

Betapa malang nasibmu,
Betapa pilu dirimu,
Diam bertahun-tahun ditempat,
Namun tersakiti oleh orang-orang bejat.

Setiap detik yang berjalan,
Kau beri mereka harapan,
Kau curahkan mereka kehidupan,
Namun akhirnya, kaupun jadi korban.

Hutanku yang malang,
Kau diremehkan bagai pecundang,
Mereka tak lagi membalas budi,
Hancurkan engkau dengan serakahnya diri.

Sabarlah, Hutanku,
Jangan bersedih, jangan berharu,
Maafkan mereka yang masih ragu,
Maafkan mereka yang tak tahu malu.

Tetaplah berjuang, hutanku,
Jangan lagi tunjukkan amarahmu,
Simpanlah ia dalam semu,
Semoga yang bejat segera malu.


Siapa Yang Bertanggung Jawab

Lalu,
Setelah semua peristiwa ini usai,
Setelah semua fenomena pilu ini larai,
Bagaimana nasib yang terbengkalai?
Apa kabar yang telah tercerai berai?

Diurus? Dibiarkan?
Atau bahkan dicampakkan?
Tolong beri kami jawaban,
Berikan kami sejenak ketenangan.

Siapa yang akan bertanggung jawab,
Atas segala perihal yang membuat pengap?
Kepada siapa kami mengadu,
Sedang rasa kian menyendu?

Beri kami keyakinan,
Beri kami pertanggung-jawaban,
Kami butuh pengakuan dan pencerah,
Atas nasib kami yang pasrah.

Itu saja,
Tidak banyak-banyak,
Kami juga butuh penjelasan,
Sebagai pengingat di masa depan.


Mereka Tidak Bersalah

Setelah semua musibah ini berakhir,
Ada 1 hal yang amat aku sesali,
Yaitu jiwa-jiwa yang tak bersalah,
Tak berdosa,
Dipaksa menerima kenyataan,
Yang amat pahit itu.

Mereka belum mengerti,
Belum siap tuk memahami,
Belum sanggup menghadapi,
Urung temukan jati diri.

Bagaimana tidak?
Kabut tebal begitu congkak,
Yang terdengar hanya suara serak,
Dari penyakit-penyakit yang marak.

Mereka tidak bersalah,
Belum tahu apa-apa,
Sebegitu tegah kalian menjarah,
Membakar hutan hingga ke tanah,
Dan sudi melihat mereka pasrah?

Tolonglah, Tolonglah mereka,
Jangan bunuh karakter yang ada,
Mereka masih butuh penunjuk arah,
Bukan jalanan yang tak terjamah.


Ketika Pagi Datang Lagi

Ketika Pagi Datang Lagi,
Kuterjaga menyapa mentari,
Sayangnya, dia seperti sembunyi,
Entah enggan, akupun tak mengerti.

Kubuka jendela kamar,
Ada rasa yang sontak bergetar,
Kemana perginya bunga mawar,
Yang biasa mekar sehabis fajar?

Pantas saja,
Kabut asap merampas waktunya,
Tak bolehkan embun hinggap menerpa,
Semua diselimuti tanpa sisa.

Jahat sekali,
Kulihat ke langit,
Apa ini? Apa yang terjadi?
Dada dan hidungku sakit.

Kabut asap, kebakaran hutan,
Terulang kembali?
Sial. Aku belum siap,
Aku akan rindu udara pagi.

Hingga besok datang lagi,
Berhari-hari lamanya,
Aku tunggu udara segar menghampiri,
Namun tak kunjung terlihat mata.

Betapa sedihnya.


Puisi Kabut Asap Sedih

Bergulung putih awan,
Beracun menapak tanah,
Mata perih dan nafas sesak,
Terengah-engah.

Membakar paru-paru dunia
Dengan sengaja,
Hanya untuk menambah harta.

Hanya karena demi rupiah,
Yang ingin terus bertambah-tambah,
Hutan tropis yang subur dan kaya,
Tak memuaskan hati pengusaha.

Kabut asap menyergap ke segala arah,
Melampaui batas kota negara,
Dunia mengencam dengan polus  udara,
Pemerintah berupaya dengan segala cara.


Puisi Halau Jerabu Karya Maryati

Saya lansir dari Inews, Sabtu (14/09/2019), beberapa hari yang lalu, seorang Kepala Sekolah SMK Kehutanan Negeri Pekanbaru membawakan seuntai puisi dalam acara Rakor Karhutla Provinsi Riau, yang bertempat di Gedung Pauh Janggi, Pekanbaru, Riau.

Judul Puisi Ibu Maryati adalah “Halau Jerabu” yang bila diartikan menjadi “Usir Debu”. Tidak tanggung-tanggung, dalam acara tersebut, yang juga dihadiri oleh Gubernur Riau, Panglima TNI, Asops Kapolri, Dirjen Gakkum KLHK, Kepala BNPB dan lainnya, beliau membacakan puisi tersebut dihadapan mereka semua.

Makna Puisi Halau Jerabu ini sendiri adalah ungkapan hati / bentuk kepedulian masyarakat Riau, terhadap banyaknya lahan hutan yang digarap dan dijadikan perkebunan. Dalam tiap-tiap baris puisi tersebut, Ibu Maryati menyampaikan keinginannya agar pelestarian hutan harus ditegakkan kembali.

Nah, berikut adalah isi Puisi Ibu Maryati yang berjudul “Halau Jerabu” :

Empat koma lima juta daratan habis kau rayu,
Muncul perkebunan dan HTI di tanah Melayu,
Kau bangun kanal untuk mengelabuiku,
Lebih tiga meter kedalaman gambut kau buat abu-abu,
Kanal kering kau bakar jadi abu.

Di tanah Melayu muncul jerebu-jerebu,
Dua puluh dua tahun sudah kotaku kau ganggu,
Membuat asa dan hatiku pilu,
Hilangkan musibah jerebu agar negeriku tampak ayu.

Buang jauh dariku 1,8 juta hektar sawit tak bermutu,
Perkebnan dikubah gambut ubahlah fungsi menjadi hutanku,
Hilangkan dosamu usir jerebu itu,
Inilah langkahmu majulah jangan ragu,
Jauh-jauh jerebu.


Penutup

Artikel ini bukan hanya sebatas Puisi tentang Kabut Asap dan Kebakaran Hutan saja, namun saya juga mengajak pembaca semua, untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama ekosistem hewan yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia.

Untuk Bacaan selengkapnya, silakan simak 17+ Puisi Tentang Bencana Alam, dan Puisi Kebakaran Hutan 2019 berikut ini.

Demikianlah, ulasan singkat kali ini mengenai Puisi tentang Kabut Asap dan bencana kebakaran hutan serta dampak yang diberikan. Semiga artikel diatas bisa bermanfaat dan terakhir daya ucapkan Terima Kasih.

Related posts: